Jumat, 11 Mei 2012

Macapat Sebagai Sarana Pembentukan Peserta Didik di Kabupaten Klaten


MACAPAT SEBAGAI SARANA PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK di KABUPATEN KLATEN

Abstrak : Macapat merupakan salah satu kesenian yang populer di Nusantara, termasuk di Jawa Tengah. Macapat sendiri berasal dari kata ‘’mocone papat papat’’ ( membacanya empat empat), yang berarti cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Didalam macapat tercermin suatu nilai luhur warisan budaya yang sangat tinggi. Di era globalisasi ini penurunan moral peserta didik telah tampak jelas. Sehingga dengan dijadikannya macapat sebagai muatan lokal di sekolah sejak jenjang dasar, baik itu sekolah negeri maupun swasta. Diharapkan mampu menanggulangi pengikisan moral yang terjadi di era globalisasi ini.
Kata Kunci : Macapat, Budaya, Moral

Macapat merupakan salah satu kesenian yang populer di Nusantara, termasuk di Jawa Tengah. Macapat sendiri berasal dari kata ‘’mocone papat papat’’ ( membacanya empat empat), yang berarti cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya juga masih ada. arti lainnya ialah bahwa -pat merujuk kepada jumlah tanda diakritis (sandhangan) dalam aksara Jawa yang relevan dalam penembangan macapat. Macapat itu mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sanjak akhir yang disebut guru lagu.
Di Jawa Tengah macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga. Kemudian menurut Serat Mardawalagu, yang dikarang oleh Ranggawarsita, macapat merupakan singkatan dari frasa maca-pat-lagu yang artinya ialah "melagukan nada keempat". Selain maca-pat-lagu, masih ada lagi maca-sa-lagu, maca-ro-lagu dan maca-tri-lagu. Konon maca-sa termasuk kategori tertua dan diciptakan oleh para Dewa dan diturunkan kepada pandita Walmiki dan diperbanyak oleh sang pujangga istana Yogiswara dari Kediri. Ternyata ini termasuk kategori yang sekarang disebut dengan nama tembang gedhé. Maca-ro termasuk tipe tembang gedhé di mana jumlah bait per pupuh bisa kurang dari empat sementara jumlah sukukata dalam setiap bait tidak selalu sama dan diciptakan oleh Yogiswara.


Maca-tri atau kategori yang ketiga adalah tembang tengahan yang konon diciptakan oleh Resi Wiratmaka, pandita istana Janggala dan disempurnakan oleh Pangeran Panji Inokartapati dan saudaranya. Dan akhirnya, macapat atau tembang cilik diciptakan oleh Sunan Bonang dan diturunkan kepada semua wali.
Sejarah Macapat dan Perkembangannya
Secara umum diperkirakan bahwa macapat muncul pada akhir masa Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, yang diperkirakan antara akhir abad XVI  dan awal abad XIX Masehi atau bahkan pada zaman Kartasuro  atau zaman Mataraman, yakni abad XVII.
Sementara itu mengenai usia macapat, terutama hubungannya dengan kakawin, mana yang lebih tua, terdapat dua pendapat yang berbeda. Prijohoetomo berpendapat bahwa macapat merupakan turunan kakawin dengan tembang gedhé sebagai perantara. Pendapat ini disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder. Menurut kedua pakar ini macapat sebagai metrum puisi asli Jawa lebih tua usianya daripada kakawin. Maka macapat baru muncul setelah pengaruh India semakin pudar.
Macapat sendiri dijadikan sebagai salah satu alat untuk menyebarkan agama Islam. Hal ini terlihat dari filosofi masing masing tembang macapat yang merupakan penggambaran dari perjalanan hidup manusia, tahap-tahap kehidupan manusia dari mulai alam ruh sampai dengan meninggalnya, tentu hal ini sesuai dengan ajaran Al Qur’an.
Sampai sekarang macapat sendiri masih dikembangkan dengan cara dijadikan sebagai muatan lokal sekolah dan ekstra kurikuler di wilayah Kabupaten Klaten Jawa Tengah.
Penamaan Metrum Macapat dan Makna Macapat pada Kehidupan Manusia
Dalam beberapa teori sastra jawa terdapat nama-nama jenis tembang macapat, kadang didapati bahwa jumlah metrumnya tidak sama. Perbedaan jumlah itu berkaitan dengan dimasukannya beberapa tembang tengahan dan tembang gede ke tembang macapat. Namun demikian nama metrum macapat sesuai dengan jenis tembangnya terdiri dari, Pucung, Mijil, durma, Kinanthi, Asmaradhana, Pangkur, Sinom, Gambuh, Balabak, Jurudemung, Wirangrong dan Girisa. Penamaan kelimabelas metrum macapat di jabarkan oleh Laginem. Adapun pemaparannya adalah sebagai berikut.
            A). Pangkur berasal dari nama punggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum dalam piagam-piagam berbahasa jawa kuno. Dalam Serat Purwaukara, Pangkur diberiarti buntut atau ekor. Oleh karena itu Pangkur kadang-kadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.
            B). Maskumambang berasal dari kata mas dan kumambang. Mas dari kata Premas yaitu punggawa dalam upacara Shaministis. Kumambang dari kata Kambang dengan sisipan – um. Kambang dari kata Ka- dan Ambang. Kambangselain berarti terapung, juga berarti Kamwang atau kembang. Ambang ada kaitannya dengan Ambangse yang berarti menembang atau mengidung. Dengan demikian, Maskumambang dapat diberi arti punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.
            C). Sinom ada hubungannya dengan kata Sinoman, yaitu perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muda zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom diberi arti seskaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun muda.
            D). Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api. Nama Asmaradana berkaitan denga peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara, Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.
            E). Dhangdhanggula diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.
            F). Durma dari kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembangDurma berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.
            G). Mijil berarti keluar. Selain itu , Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.
            H). Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.
            I). Gambuh berarti ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang Gambuh berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana tidak ragu-ragu.
            J). Wirangrong berarti trenyuh ( sedih ), nelangsa ( penuh derita ), kapirangu ( ragu-ragu). Namun dalam teks sastra, Wirangrong digunakan dalam suasana berwibawa.
             K). Jurudemung berasal dari kata juru yang berarti tukang, penabuh, dan demung yang berarti nama sebuah perlengkapan gamelan. Dengan demikian, Jurudemung dapat berarti penabuh gamelan. Dalam Serat Purwaukara, Jurudemung diberi arti lelinggir kang landep atau sanding (pisau) yang tajam.
            L). Girisa berarti arik (tenang), wedi (takut), giris (ngeri). Girisa yang berasal dari bahasa Sansekerta, Girica adalah nama dewa Siwa yang bertahta di gunung atau dewa gunung, sehingga disebut Hyang Girinata. Dalam Serat Purwaukara, Girisa diberi arti boten sarwa wegah, bermakna tidak serba enggan, sehingga mempunyai watak selalu ingat.
            M). Pucung adalah nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan ( kuncup dedaunan ) yang biasanya tampak segar. Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung. Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
            N). Megatruh berasal dari awalan am, pega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah, cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala ( membuang yang serba jelek ). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugs yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.
            O). Balabak, dalam Serat Purwaukara diberi arti kasilap atau terbenam. Apabila dihubungkan dengan kata bala dan baka, Balabak dapat berarti pasukan atau kelompok burung Bangau. Apabila terbang, pasukan burung Bangau tampak santai. Oleh karena itu tembang Balabak berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.

Sedangkan jika macapat itu di urutkan dari kehidupan manusia, maka akan menjadi sebagai berikut.
1.      Maskumambang yang memvisualisasikan “jabang bayi” yang masih ada di dalam kandungan ibunya, masih belum kelihatan jenis kelaminnya (bisa lelaki atau perempuan), “kumambang” mengandung arti hidupnya mengabang didalam perut ibunda nya .
2.       Mijil artinya sebuah kelahiran dari dalam perut ibunda nya, sudah jelas terlihat jenis kelaminnya.
3.      Kinanthi sendiri berasal dari kata “kanthi” atau tuntunan yang berarti di tuntun supaya bisa berjalan dalam kehidupan di alam dunia.
4.       Sinom mempunyai arti “kanoman” (kemudaan/usia muda), berarti adalah waktu luang pada masa muda untuk menimba ilmu sebanyak banyaknya.
5.       Asmaradana yang berarti perasaan asmara/cinta, perasaan saling menyukai yang sudah menjadi kodrat ilahi (perasaan lelaki dan perempuan).
6.       Gambuh berasala dari kata “jumbuh/sarujuk” (cocok) yang berarti sudah cocok kemudian dipertemukan antara pria dan wanita yang sudah memiliki perasaan asmara, agar menjadikan sebuah pernikahan.
7.       Dhandhanggula ini menggambarkan hidup orang tersebut sedang merasa senang senang nya, apa yang dicita citakan bisa tercapai, bisa memiliki keluarga, mempunyai keturunan, hidup berkecukupan untuk sekeluarga. Sebab itu dia merasa bergemira hatinya, bisa disebut lagu “dandhanggula”.
8.       Durma itu berasal dari kata “darma/weweh” (berdarma/memberikan sumbangan). Bila orang sudah merasa berkecukupan maka kemudian timbul rasa welas asihnya kepada sesama yang sedang ada masalah, sebab itu kemudian tibul persaan iba dan ingin memberikan sumbangan kepada semua, sebab itu memang sudah menjadi watak manusia yang ingin selalu berderma akibat dari welas asih hatinya.
9.       Pangkur berasal dari kata “mungkur” (mundur) yang berarti sudah memundurkan semua hawa napsunya, yang dipikirkan hanya berdarma kepada sesama mahluk .
10.  Megatruh berasal dari kata “megat roh” (melepaskan roh), roh atau nyawa sudah lepas dari badan jasadnya sebab sudah waktunya kembali ke tempat yang telah digariskan oleh Hyang Maha Kuasa.
11.  Pocung / Pucung yang menyimpan arti kalau sudah menjadi “lelayon”(mayat) badan jasad kemudian di pocong sebelum dikubur.
Macapat Sebagai Sarana Penataan Moral Peserta Didik
Dari kandungan – kandungan yang diisyaratkan macapat sangat menunjukan bagaimana seseorang itu harus menjalani hidup ini. Dari sinilah dapat dijadikan sarana pembentukan peserta didik. Pada umumnya pendidikan sekarang dimulai dari PAUD, namun macapat sendiri mulai diperkenalkan pada tingkat SD yang menjadi muatan lokal (mulok) SSD (Seni Suara Daerah). Pada mulanya SSD itu sudah terkandung dalam mata pelajaran Bahasa Daerah atau Bahasa Jawa, kemudian karena banyaknya materi yang harus disampaikan akhirnya macapat pun dipisahkan dari Bahasa Daerah atau Bahasa Jawa, sehingga menjadi SSD. Pengajaran SSD sendiri secara bertahap, yakni ketika anak didik SD masih duduk di kelas 1 dan 2, diajarkan tembang dolanan, seperti gundul – gundul pacul, menthok – menthok, pithik ku dsb. Pengajaran lagu – lagu dolanan ini juga beserta guru wilangannya.  
Tentu saja tembang dolanan ini bersifat ceria, sehingga dapat menjadikan peserta didik mempunyai kepribadian yang sumringah dalam bahasa jawa atau selalu bersemangat dan senang. Setelah menginjak kelas 3 SD sisiwa sudah mulai dukenalkan dengan tembang macapat. Tembang macapat yang diajarkan pada mulanya adalah sekar gambuh. Berikut ini lirik dari sekar gambuh.
Sekar gambuh ping catur,
Kang cinatur polah kang kalantur,
Tanpo tutur katula tula katali,
Kadaluwarso katutuh,
Kapatoh pan dadi awon.
Lirik dari sekar gambuh ini sangatlah sederhana, Namun pesan yang tersirat dari tembang sekar gambuh ini yang luar biasa. Tembang ini bersifat pepeling atau peringatan bagi umat manusia yang lebih ditekankan pada muda mudi. Jika diartikan ke bahasa Indonesia, maka akan menjadi seperti ini.
      Sekar gambuh ping catur  = ini adalah lagu gambuh yang ke empat
Kang cinatur polah kang kalantur = yang mengatakan kelakuan tanpa batas
Tanpo tutur katulo tulo katali = tanpa ada yang menasehati maka hidunya akan terus susah
Kadaluarso katutuh = semua yang sudah terlanjur terjadi
Kapatoh pan dadi awon = Sehingga masa depannya akan suram
Jika kita telaah kembali, tembang ini memberikan peringatan bagi manusia, agar selalu mengatur hidupnya, mendengarkan setiap nasehat agar menjadi manusia yang berguna di masa depannya. Dari sinilah guru yang mengajarkan mampu mengakumulasi pesan tersirat dari tembang tersebut. Sehingga peserta didik mampu mengaplikasikan pada keseharian mereka. Dalam pengajaran tembang macapat ini tentu saja peran guru sangatlah penting untuk dapat menyampaikan pesan dari tembang macapat. Pengajaran macapat pun didapatkan tidak hanya di SD saja, melainkan berlanjut sampai tingkat Sekolah Menengah Atas.
Ketika UAS pun SSD juga diikut sertakan baik itu berupa tes tulis maupun test praktek. Pengajaran macapat yang di perioritaskan sebagai sarana  pembentukan karakter peserta didik ini juga diperkenalkan oleh teknik pengajaran bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro. Jika sejak dini peserta didik diajarkan tentang budi pekerti, tata karma, aturan hidup seperti yang tersirat dalam tembang macapat. Maka ketika mereka sudah meraih cita – citanya ataupun sebagai seorang pemimpin, mereka akan menjadi orang yang terkontrol atau terdapat tolak ukur dalam melakukan suatu perbuatan.

Penutup
Macapat merupakan salah satu warisan budaya yang cukup popular di Nusantara. Sehingga macapat pun mampu menjadi muatan lokal di sekolah yang masuk dalam kurikulum pelajaran. Macapat sendiri memiliki pesan yang amat luhur untuk kehidupan manusa yang lebih tertata. Dengan demikian pengajaran macapat dijadikan sebagai sarana pembentukan karakteristik peserta didik. Agar di hari mendatang peserta didik mampu menjadi orang yang berguna bagi masyarakat nusa dan bangsa. Tentu saja sebagai manusia yang teratur dan terkontrol perbuatannya.










s

DAFTAR RUJUKAN
Hutomo, Suripan Sadi. 1991 . Nilai Budaya dalam Sastra Jawa. Jakarta: Proyek Penerbit Buku                  Sastra Indonesia dan Daerah
Sardjana, H.A. 1968. Tembang Macapat. Dalam Widyaparwa Nomor 1. Jogjakarta: Balai Penelitian Bahasa
Kaswardi, EM.K. 1993. Pendidikan Nilai Memasuki tahun 2000. Jakarta : PT.Grasindo
Hariyanto. 2004. Sejarah Kebudayaaan Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional Universitas                                        Negeri Malang
Klaten Online
www.klaten.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar